Jumat, September 07, 2007

VISI INDONESIA 2030

Visi Indonesia 2030

Oleh ISHADI S.K.

APA yang akan terjadi di Indonesia pada tahun 2030? Menurut Yayasan
Indonesia Forum, pada tahun itu, "income per capita"
Indonesia mencapai
18.000 dolar AS per tahun. Dengan jumlah penduduk 285 juta orang,
Indonesia
akan menjadi kekuatan ekonomi dunia kelima setelah Cina, Amerika Serikat,
Uni Eropa dan
India.

 Tidak semua setuju. Pakar politik Universitas Indonesia (UI), Dr. Arbi Sanit
menyatakan Visi 2030, merupakan "khayalan belaka". Salahuddin Wahid, mantan
calon wakil presiden menyebutnya "tidak masuk akal". Sukardi Rinakit dari
Sugeng Sarijadi Syndicate menulis Visi 2030 akan terlaksana "kalau pada
tahun 2020 kita menjadi bagian Negara Eropa Utara dan Amerika Serikat".
Menurut dia, Visi 2030 hanya "kiat pengusaha mengail ikan di Istana." Kwik
Kian Gie menulis: "Mereka yang menyusun bukan orang yang mempunyai visi.
Sebagian pedagang yang lainnya lulusan universitas dan teknokrat yang miskin
falsafah". Katanya dengan sinis: "Lebih baik onani dari pada mimpi". Tidak
hanya pakar yang memberi komentar negatif. Sutardji Calzoum Bachri "Presiden
Penyair
Indonesia" menyebut: Visi 2030 sebagai "mimpi yang kelewat batas".
Sementara Gus Pur - di acara Republik Benar Benar Mimpi (BBM) mengatakan:
"Paling hanya beda tipis kalau tidak tercapai 2030, yah akan tercapai 3030".
Gus Pur adalah salah satu figur acara dagelan politik yang lumanyan
"mencerdaskan" di Metro TV.

Tidak semua pesimistis. Pengamat Ekonomi Djisman Simanjuntak, Ekonom
Universitas Gadjah Mada (UGM), Sri Hadiningsih, Deputi Gubernur Bank
Indonesia (BI) Bun Bunan Hutapea, Mantan Perwira Tinggi TNI Letjen Pur.
Sayidiman Suryohadiprodjo, Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
Mahfuddzidiq dan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Soetrisno Bachir,
percaya bahwa Visi Indonesia 2030 akan tercapai dengan beberapa syarat.

Mengapa "Indonesia Forum" perlu membuat Visi 2030? Padahal mungkin sebagian
dari kita sudah tidak bisa menikmati?

 Visi itu memang dimaksudkan untuk generasi penerus, agar mereka menikmati
Indonesia yang lebih baik kelak. Angka 18.000 dolar bukan
angka yang mutlak, akan tetapi sekadar target, bisa lebih bisa juga kurang.
Angka itu dinyatakan untuk membangkitkan optimisme bahwa ada
harapan di masa depan. Tanpa sikap optimistis itu tidak akan pernah lahir
semangat untuk bekerja keras menuju "bangsa maju" yang
dicita-citakan di tengah keterpurukan bangsa sekarang. Sebaliknya, kita
jangan terjerumus dalam pesimisme yang berlarut.

 Tahun 1959, ketika Lee Kwan Yew mengajak bangsa Singapura bangkit dan
bekerja keras agar pada tahun 1980 bisa menyamai bangsa Eropa, tidak ada
seorang pun yang percaya, karena waktu itu gross national product (GNP) per
capita Singapura hanya 400 dolar AS. Faktanya, tatkala Lee mengundurkan diri
31 tahun kemudian (1990), GNP per capita Singapura meningkat 60 kali lipat
atau 6000%.

 Visi Indonesia awalnya digagas di Manado bulan Juli 2006 dalam Kongres XVI
Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), beberapa saat setelah CT (Chairul
Tanjung) terpilih sebagai Ketua Yayasan Indonesia Forum yang baru.
Pembicaraan awal bahkan hanya dilakukan di sebuah
restoran sea food antara CT, Raden Pardede dan saya. Gagasan ini kemudian
lebih mengemuka ketika UBS (United Bank of
Switzerland) ,
Januari lalu menerbitkan laporan setebal 300 halaman, "Essential 2007".
Disusun oleh 1000 ekonom, analis dan peneliti, yang menyebutkan bahwa pada
tahun 2025,
Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar setelah Cina,
Amerika Serkat,
Uni Eropa, India, Jepang dan Brasilia.

 Data inilah yang kemudian menginspirasi tim perumus - dipimpin Dr. Raden
Pardede ketika menyusun kerangka dasar "Visi Indonesia 2030".
Kelompok itu terdiri dari wakil pengusaha, ekonom, dan birokrat, di
antaranya Bambang P.S Brojonegoro dan M. Chatib Basri (Fakultas
Ekonomi Universitas
Indonesia). Ainun Na'im (UGM), Suahasil Nazara (Institut
Pertanian Bogor), John Prasetyo, TP Rachmat dan
Darwin
Silalahi (kalangan bisnis) serta Anny Ratnawati (birokrat). Dengan demikian,
tidak benar kalau dikatakan di belakang Visi Indonesia 2030
adalah Anthony Salim atau konglomerat lain.

 Visi ini juga bukan gagasan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Mengapa
peluncurannya harus di istana dan dihadiri oleh jajaran menteri dan
dan para pimpinan lembaga tinggi negara? Karena periode terpenting dari Visi
2030 adalah 2005-2010, yang kebetulan menjadi tanggung
jawab pemerintah sekarang.

 Menyimak pro dan kontra Visi Indonesia 2030 secara sederhana bisa dilihat
sebagai dua kelompok yang berbeda cara pandangnya. Pihak
pertama, mereka yang pesimistis bahwa visi itu akan terlaksana melihat
kondisi riil yang sama sekali tidak mendukung prediksi yang
dikemukakan. Sementara "Indonesia Forum" melihatnya lewat pemikiran out of
the box, sehingga dengan rasa optimisme yakin bahwa angka
18.000 dolar AS bukan hal yang mustahil. Catatan persyaratannya memang
panjang: reformasi perpajakan, reformasi birokrasi, reformasi sistem hukum,
good governance dan ditunjang komitmen semua pihak. Akhirnya paling penting
di atas semua itu adalah adanya pemimpin yang memiliki "a vision and strong
leadership".

 Seperti dikatakan Maxwell: "The pessimist complains about the wind, the
optimist expects it to change. The leader adjusts the sails (Yang pesimis
merisaukan badai yang kencang. Yang optimis mengharap badai segera berlalu.
Pemimpin mengatur arah layar agar tetap melaju.***


Penulis, pengurus Yayasan Indonesia Forum.

Sumber: PR.